Empat Mitos Seputar Tes Wawancara

17 11 2009

Salah satu sebab mengapa banyak orang gagal menjalani tes wawancara adalah karena beberapa salah paham terkait apa yang benar-benar terjadi pada saat tes wawancara dilangsungkan. Saya menyebutnya sebagai mitos tes wawancara.

Setiap kita udah tau bahwa tujuan dari tes wawancara adalah untuk mencari orang2 terbaik untuk pekerjaan yg ditawarkan, tapi masih banyak yang belum paham tentang apa-apa yang membuat seorang kandidat bisa unggul ketimbang yg lain.

Mitos Pertama: Orang dg kompetensi terbaik lah yang akan dapet kerjaannya.

Kadang emang betul, khususnya pada situasi di mana masing2 sudah sama tau, semisal perusahaan yg melakukan reruitmen internal. Namun seringkali bukan seperti itu yg terjadi. Lolosnya seseorang dalam tes wawancara kan dipengaruhi oleh banyak hal. Semisal saja si pewawancara tau betul pertanyaan apa saja yg perlu ditanyakan serta bagaimana mengetahui tingkat kejujuran dari jawaban yang diberikan. Dua hal ini terkesan remeh, tapi nyatanya banyak pewawancara yang ndak pernah ikut training ttg job interview dan kurangn berpengalaman mewawancara, atau sekedar ndak punya waktu untuk menyiapkan bahan wawancara. Belum lagi ketika si pewawancara sedang bad mood. Baca entri selengkapnya »

Iklan




9 Pertanyaan Sifat dan Karakter pada Tes Wawancara

17 11 2009

Pertanyaan tentang karakter dan sifat bisa jadi merupakan yang paling subyektif dari semua jenis pertanyaan yg ada. Gawatnya, hal ini kadang bisa terpengaruh banget oleh mood (dan siklus hormonal juga). Dan menariknya, mood dan kondisi produktif kita juga bisa dipengaruhi oleh waktu. Maksudnya, Anda ngerasa ngga klo Anda merasa paling produktif pada waktu2 tertentu dalam satu hari, atau waktu2 tertentu dalam satu minggunya. Bagi banyak orang, hari senin adalah hari yg kurang mbikin semangat. Entah karena kecapekan akibat lelah beristirahat pada sabtu minggunya atau benar2 karena males.

Apapun deh, menghadapi pertanyaan tentang karakter dan sifat tidaklah menjadi begitu mudahnya mentang2 kita sudah tau banyak tentang teori kepribadian plus.

Baik, mari kita mulai:

1.   Menurut Anda sendiri… apakah Anda ini pintar?

(ingat, ada beda antara rendah hati dan rendah diri. Dan ini bukanlah waktu untuk menjadi sempurna pada keduanya.)

Iya. Dalam artian bahwa kepintaran di sini bukan sekedar diukur dari hasil tes IQ. Saya pikir kepintaran seseorang akan benar2 tampak ketika seseorang menghadapi beragam situasi dan berinteraksi dengan banyak orang. Dan dari aspek itulah saya merasa miliki keunggulan. Saya memiliki rasa percaya diri yg besar pada kemampuan saya untuk bekerja dengan orang lain, menyelesaikan permasalahan bisnis, dan juga membuat keputusan yg terkait urusan kerja. Tentu saja masih ada banyak hal yang saya belum tahu, tapi saya optimis bahwa saya bisa mempelajarinya. Sehingga saya lalu juga mengartikan kepintaran sebagai kemampuan yg baik untuk mengajukan pertanyaan pintar, mendengarkan dengan seksama, dan menyadari tak ada orang yg tahu tentang segalanya. Baca entri selengkapnya »





Jawablah Tes Wawancara Apa Adanya

14 07 2009

Berbohong saat tes wawancara bukan hanya tak berguna, tapi juga bisa membuat Anda tidak diterima. Lebih bijaksana bila pertanyaan dijawab apa adanya, spontan, langsung ke pokok persoalan, tidak mengada-ada, tidak menggurui, dan sopan.

“Padahal tinggal wawancara lo, kok gagal. Dulu juga begitu, selalu kandas di tahap ini”. Keluhan macam itu banyak kita dengar dari mereka yang tak lolos dalam wawancara psikologi untuk melamar kerja. Sebuah kenyataan yang menyesakkan, apalagi kebanyakan tahapan wawancara berada diakhir proses seleksi. Lolos di sini berarti si calon diterima di tempat kerja yang baru.

Wawancara psikologi punya banyak makna. Ada beberapa versi, salah satunya, menurut Bingham dan Moore, wawancara adalah “… conversation directed to define purpose other than satisfaction in the conversation itself”. Sedangkan menurut Weiner, “The term interview has a history of usage going back for centuries. It was used normally to designate a face to face meeting of individual for a formal conference on some point.”  Baca entri selengkapnya »





Menyiapkan Diri Menghadapi Psikotes

25 06 2009

consultant-psikotest-assessment-psikometri-1Sebelum Tes

  • Anda harus yakin terlebih dulu, bahwa posisi/pekerjaan yg akan dimasuki lewat psikotes itu benar-benar sesuai dengan kemampuan anda, dan sebaiknya juga sesuai dengan keinginan anda.
  • Persiapkan diri dgn istirahat cukup. Seringkali, seseorang sebenarnya mampu mengerjakan tes. Namun, ketegangan/kondisi tubuh yg tidak prima, dpt membuat hasil tes menjadi jelek. Oleh karena itu, anda hrs beristirahat satu atau dua hari sebelumnya agar kondisi fisik menjadi prima.
  • Pastikan anda sudah tahu tempat tes. Disarankan beberapa hari sebelum tes, anda sudah mengetahui tempatnya, bahkan sudah melihat tempatnya. Baca entri selengkapnya »




Wawancara Saat Psikotest

25 04 2009

Berbohong saat tes wawancara bukan hanya tak berguna, tapi juga bisa membuat Anda tidak diterima. Lebih bijaksana bila pertanyaan dijawab apa adanya, spontan, langsung ke pokok persoalan, tidak mengada-ada, tidak menggurui, dan sopan.

“Padahal tinggal wawancara lo, kok gagal. Dulu juga begitu, selalu kandas di tahap ini”. Keluhan macam itu banyak kita dengar dari mereka yang tak lolos dalam wawancara psikologi untuk melamar kerja. Sebuah kenyataan yang menyesakkan, apalagi kebanyakan tahapan wawancara berada diakhir proses seleksi. Lolos di sini berarti si calon diterima di tempat kerja yang baru.

Wawancara psikologi punya banyak makna. Ada beberapa versi, salah satunya, menurut Bingham dan Moore, wawancara adalah “… conversation directed to define purpose other than satisfaction in the conversation itself”. Sedangkan menurut Weiner, “The term interview has a history of usage going back for centuries. It was used normally to designate a face to face meeting of individual for a formal conference on some point.” Baca entri selengkapnya »





MENGENAL DIRI SENDIRI SEBELUM PSIKOTES

15 04 2009

Anda mungkin pernah menerima surat undangan psikotes dari sebuah perusahaan. Satu catatan kecil biasanya tercantum di bagian bawah surat: Mohon datang tepat waktu dan istirahat secukupnya. Usahakan makan pagi, karena tes ini akan memakan waktu sehari penuh.

Pesan-pesan tersebut adalah sedikit persiapan untuk menghadapi psikotes. Tetapi, sebuah tes psikologi, sebenarnya membutuhkan sebuah spontanitas dan orisinalitas respon/jawaban untuk bisa menggambarkan kepribadian yang sebenarnya dalam diri Anda.

Oleh karena itu, sebagaimana dikatakan Suko Winarno, praktisi yang bekerja di Biro Konsultan Psikologi LPT UI, sebuah psikotes sebenarnya hanya membutuhkan sikap sukarela, konsentrasi penuh dan berada dalam kondisi fisik maupun psikis yang sehat.

Selain itu, rasa percaya diri merupakan sesuatu yang penting. Untuk membantu mendongkrak kepercayaan diri tersebut, Anda perlu mengenal diri Anda sendiri. Hal itu akan menjawab pertanyaan, apakah model pekerjaan yang Anda lamar cocok dengan pribadi Anda. Baca entri selengkapnya »





ARTIKEL DUNIA KERJA: SEBUAH MOMOK BERNAMA PSIKOTES

15 04 2009

Terlalu banyak cerita sedih tentang kegagalan seseorang melewati psikotes. Seluruh energi yang terkuras seharian seolah tidak berarti apa-apa. Keinginan meraih pekerjaan pun melayang. Dan, Anda harus menunggu kesempatan lain lagi untuk bisa mendapatkan pekerjaan.

Dalam rangkaian seleksi sebuah pekerjaan, asesmen psikologis yang lazim disebut psikotes tersebut memang mempunyai arti penting. Ia adalah perangkat untuk menangkap kecenderungan seseorang, yakni para pelamar pekerjaan. Kecenderungan itu meliputi kemampuan intelektual maupun kepribadian, untuk disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan yang tersedia.

Proses psikotes itu sendiri cukup khas. Awalnya, sebuah perusahaan membutuhkan beberapa personil untuk menempati sebuah posisi tertentu di perusahaannya. Kemudian, perusahaan menetapkan sejumlah kualifikasi yang harus dipenuhi para pelamar kerja.

Untuk alasan efisiensi, biasanya perusahaan meminta bantuan kepada biro atau lembaga psikologi terapan untuk menyaring orang-orang yang dibutuhkan. Lembaga Psikologi Terapan (LPT) Universitas Indonesia (UI) dan PT Iradat, misalnya. Selanjutnya, dengan gambaran kualifikasi yang ditetapkan perusahaan, biro berusaha menangkap kemampuan dan kecenderungan untuk memenuhi kualifikasi tersebut. Baca entri selengkapnya »