Deep Kiss’, Antara Kenikmatan dan Resiko Infeksi Otak

19 04 2009

Bagi para penggemar film-film produksi Hollywood, tentu sudah tak asing dengan ‘kebiasaan’ alias tradisi yang sering muncul di dalam alur ceritanya, yakni selalu ada adegan deep kiss atau ciuman intim. Adegan yang bagi sebagian masyarakat masih dianggap ‘haram’ tampil pada film-film nasional ini memang cenderung mudah ditiru masyarakat, khususnya oleh kaum muda.

Mereka beranggapan model ciuman seperti itu sangatlah ‘nikmat’. Padahal, ciuman intim beresiko menyebarkan berbagai jenis penyakit, apalagi jika dilakukan dengan beberapa orang yang tidak diketahui riwayat penyakitnya, dari penyakit mulut hingga penyakit dalam. Wow! Mengerikan bukan?

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Australia, hal tersebut meningkatkan resiko terkena meningitis atau kerusakan membran otak. Ciuman yang ‘dalam’ dan sempurna memberi pengalaman yang lebih berkesan ketimbang hubungan seksual. Hal ini diungkapkan oleh para pencinta ciuman. Lantas, banyak orang menilai ciuman yang hebat adalah gaya orang Prancis yang kemudian dikenal dengan French Kiss. Dalam gaya ini, lidahlah yang paling berperan. Padahal lidah memiliki permukaan yang sensitif. Tak mengherankan bila sensasinya bisa melesat, tapi seketika itu pula bakteri bisa dengan mudah berpindah antara dua manusia.

Rupanya, di sini kenikmatan dan bencana saling ‘bergandengan’. Profesor Robert Booy, Wakil Direktur National ‘Centre for Immunization Research and Surveillance’ pada Rumah Sakit Anak Westmead, Sydney, Australia, adalah orang yang mengungkapkan kaitan French Kiss dengan penyebaran bakteri meningococcal.

“Berciuman dengan lidah, berpotensi tinggi menyebabkan terjadinya penyebaran bakteri meningococcal, khususnya bagi orang yang berganti-ganti pasangan,” kata Booy.

Meningitis adalah infeksi pada bagian pembungkus otak dan syaraf tulang belakang. Penyebabnya adalah virus atau bakteri. Penyakit ini sering menyerang anak-anak dan remaja, serta penyebarannya dari seorang penderita kepada orang di sekitarnya melalui udara, misalnya melalui bersin, batuk, ciuman, dan hidup dalam satu ruangan, misalnya di asrama.

Sekitar 5 hingga 10% pasien akhirnya meninggal karena serangan penyakit ini, dalam tempo 24 hingga 48 jam setelah timbul gejala. Dalam laporan penelitian yang dimuat British Medical Journal, para peneliti mempelajari faktor-faktor yang meningkatkan resiko penyakit. Penelitian tersebut dilakukan terhadap para penderita berusia 15 hingga 19 tahun, yang menjalani perawatan di rumah sakit karena menderita penyakit tersebut.

Selain melakukan wawancara dengan pasien, para peneliti juga mengukur sampel darah, kerongkongan, dan lap ingus. Dengan membandingkan data-data serupa dari remaja yang sehat, Booy dan timnya menemukan bahwa ciuman intim antara seseorang dengan penderita meningitis adalah salah satu sumber penyebaran penyakit tersebut.

Dari hasil survei terhadap 144 remaja Inggris yang berusia 15-19 tahun di sebuah rumah sakit, para peneliti Australia yang dipimpin Booy mencatat dua faktor yang menjadi pertanda perilaku yang kerap menjadi sasaran bakteri meningococcal, yakni remaja yang memiliki kekasih yang berperilaku ‘multipartner’ dan pasangan yang kerap berpesta, karena bakteri ini bisa menyebar dari batuk para perokok.

Gejala awal meningitis seperti flu, di antaranya demam, sakit kepala, leher kaku, dan nafsu makan hilang. Jadi tak salah jika Anda menyangka pasangan Anda sedang terserang penyakit ringan tersebut. Hingga tak ada ketakutan saat berciuman karena kalau ketularan pun paling cuma mengalami demam atau pilek.

Selain meningitis, sebenarnya ada sejumlah penyakit infeksi lain yang dengan mudah ditularkan melalui ciuman, seperti penyakit gondok, sakit tenggorokan, bahkan infeksi cytomegalovirus, jenis virus yang bisa ditemukan pada air liur, urine, dan cairan tubuh lain. Virus yang termasuk keluarga virus herpes ini bisa menyebar melalui hubungan seksual dan berciuman. Pada orang dewasa, gejalanya berupa pembengkakan kelenjar getah bening, demam, dan rasa lelah yang terus-menerus.

Mereka menyarankan para remaja untuk mengubah perilakunya, untuk menurunkan resiko penyebaran penyakit ini. Tentu saja saran tersebut juga berguna bagi setiap orang. Ciuman bukan masalah sepele dan harus dipastikan dengan orang yang sehat. (bun)

sumber: Kapanlagi.com


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: