Remaja Butuh Tempat Curhat

18 04 2009

KOMPLEKSNYA masalah yang dihadapi remaja di era globalisasi, tidak bisa diabaikan begitu saja. Salah-salah mereka akan menjadi pecandu narkoba atau penghibur ”hidung belang”.

Itu mengingat, menurut Kepala BKKBN Jateng Drs Pristy Waluyo, masa remaja penuh dengan gejolak karena terjadi berbagai perubahan, baik jasmanai maupun rohani. Karena itu, diperlukan penanganan khusus. Sebab, sensitifnya jiwa mereka. Jangan sampai mereka kehilangan kepercayaan.

Berbagai pendekatan harus dilakukan. Antara lain, pendekatan kepada remaja dilakukan melalui keluarga, sekolah, dan konsultasi, terutama yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi.

Untuk itu, keberadaan konseling sangat penting untuk mengarahkan dan mengubah perilaku positif remaja ketika memasuki masa dewasa dan berkeluarga. Ini dibutuhkan, karena kebanyakan mereka enggan atau malu menyampaikan curahan hatinya (curhat) kepada orang tua atau keluarga.

Biasanya, sahabat atau teman dekat bahkan orang lain yang baru dikenal dijadikan sebagai tempat curhat. Padahal, tidak sedikit orang yang dipercaya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Tidak jarang, remaja yang tengah bingung terjerumus dalam penggunaan obat-obatan terlarang (narkoba). Bukan rahasia lagi, ini semua akibat ulah orang yang ingin memasarkan barang maksiat tersebut.

Lebih dari itu, khusus remaja putri, bisa terjerumus ke lembah hitam. Karena terlena, ”mahkota”-nya hilang, lalu diperdagangkan kepada ”om-om hidung belang”.

Pusat Konsultasi Remaja

Melihat akibat salah penanganan remaja bermasalah, dan mereka butuh tempat curhat, BKKBN yang mempunyai misi mensejahterakan keluarga, tampil dengan kepanjangan tangannya, Pusat Konsultasi Remaja (PKR).

PKR merupakan salah satu lembaga yang dibentuk khusus untuk tempat curhat. Sejak Januari 2000 hingga September 2001, tercatat 17.853 remaja memanfaatkan aktivitas PKR.

Pada pertemuan Advokasi-KIE bagi pengelola PKR, belum lama ini yang dibuka Kepala BKKBN Jateng Drs Pristy Waluyo, Dra VG Tinuk Istiarti MKes mengatakan, dalam klasifikasi kasus psikologi kliennya, masalah pacar menempati urutan tertinggi, disusul masalah kesehatan.

”Dari 315 remaja yang datang sendiri untuk berkonsultasi, 4,4% menyampaikan permasalahan hubungan seks. Lalu, 8,3 % akibat pergaulan bebas, telah hamil,” kata Dra VG Tinuk Istiarti MKes.

Di hadapan peserta pertemuan yang dihadiri pengurus PKR Pemalang, Brebes, Rembang, Jepara, dan Cilacap, Tinuk menambahkan, dari 2038 remaja yang berkonsultasi lewat telepon, 5,3 % mengaku pernah berhubungan seks. Kemudian, 1,1% menyampaikan keluhan kehamilan akibat seks bebas.

Yang lewat surat, dari 342 remaja, ada 3,2% yang telah berhubungan seks, dan hamil 0,3%. ”Dari data itu, disimpulkan remaja yang memiliki permasalahan butuh teman untuk curhat. Penggunaan media telepon menduduki peringkat atas, karena malu jika diketahui wajahnya”.

Masyarakat Spesifik

Remaja sebagai kelompok masyarakat spesifik ditinjau dari umur periode transisi antara masa anak dan dewasa perlu mendapat perhatian khusus. Mengingat posisinya sebagai cikal generasi penerus bangsa, masalah kesehatan, psikologis menjadi fokus dalam pembinaan.

Tidak kalah penting, kesehatan remaja bersifat universal, baik ditinjau dari aspek kesehatan reproduksi maupun aspek kultural, sosial dan lain-lain, perlu diberikan ”siraman rohani”.

Untuk memberi pelayanan konsultasi advokasi, diperlukan materi, metode yang sesuai dengan kebutuhan daerah, adat istiadat, agama, dan budaya. Hal lain yang terungkap dalam pertemuan tersebut, adanya upaya memberikan pelayanan.

Yaitu, diperlukan manajemen menyeluruh yang menyangkut jaringan, SDM berkompeten, sarana, wilayah garapan, dan pembinaan kelompok. Untuk kelestarian program pelayanan kesehatan reproduksi remaja, diperlukan pemberdayaan remaja, orang tua, dan pemerintah dalam jaringan mitra kerja.

Untuk pelaksaaan operasional PKR di tingkat dua (kota/kabupaten), kata Kepala BKKBN Jateng Drs Pristy Waluyo, dilakukan bekerja sama dengan institusi masyarakat setempat. Dalam hal ini, tidak lepas dari peran konselor psikolog, pendidikan, kesehatan, agama, dan komunikasi.

Dengan orientasi advokasi-KIE pengelolaan PKR di tingkat dua, diharapkan meningkatkan manajemen. Pengelolaannya lebih efektif, dan diharapkan banyak keluarga/remaja yang memanfaatkan PKR sebagai tempat rujukan pemecahan permasalahan.

Pertemuan sehari yang digelar di Kantor BKKBN, Jl Pemuda, Semarang ini, menyimpulkan, remaja khsususnya dan orang tua umunmya membutuhkan tempat untuk curhat.


Aksi

Information

2 responses

23 04 2009
haris munandar

salam hangat dari PIK Al Hidayat lasem, kami juga sangat prihatin dengan kondisi remaja kita, kami khususnya yang dipesantren juga ikut tergerak dengan kondisi seperti itu oleh sebab itu kami pun dengan lewat dakwah dan pendekatan secara preventif selalu mengajak temen – temen untuk menyadari bahwa hal yang negatif akan berdampak buruk baik di dunia maupun di akhirot, namun sebelum kita memberi petuah kita harus bisa menjadi uswah yang hasanah(suri tauladan yang baik) agar kata – kata kita diterima.
demikian terima kasih

6 10 2009
andri despriyono

saya mau konsultasi seks saya setiap hari lihat mama dan papa melakukan seks terus saya ingin dimana solusinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: