ARTIKEL DUNIA KERJA: SEBUAH MOMOK BERNAMA PSIKOTES

15 04 2009

Terlalu banyak cerita sedih tentang kegagalan seseorang melewati psikotes. Seluruh energi yang terkuras seharian seolah tidak berarti apa-apa. Keinginan meraih pekerjaan pun melayang. Dan, Anda harus menunggu kesempatan lain lagi untuk bisa mendapatkan pekerjaan.

Dalam rangkaian seleksi sebuah pekerjaan, asesmen psikologis yang lazim disebut psikotes tersebut memang mempunyai arti penting. Ia adalah perangkat untuk menangkap kecenderungan seseorang, yakni para pelamar pekerjaan. Kecenderungan itu meliputi kemampuan intelektual maupun kepribadian, untuk disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan yang tersedia.

Proses psikotes itu sendiri cukup khas. Awalnya, sebuah perusahaan membutuhkan beberapa personil untuk menempati sebuah posisi tertentu di perusahaannya. Kemudian, perusahaan menetapkan sejumlah kualifikasi yang harus dipenuhi para pelamar kerja.

Untuk alasan efisiensi, biasanya perusahaan meminta bantuan kepada biro atau lembaga psikologi terapan untuk menyaring orang-orang yang dibutuhkan. Lembaga Psikologi Terapan (LPT) Universitas Indonesia (UI) dan PT Iradat, misalnya. Selanjutnya, dengan gambaran kualifikasi yang ditetapkan perusahaan, biro berusaha menangkap kemampuan dan kecenderungan untuk memenuhi kualifikasi tersebut.

Kualifikasi terhadap posisi yang dibutuhkan sebuah perusahaan akan berpengaruh terhadap model psikotes yang dilakukan. Untuk posisi yang tinggi, semisal chief executive officer (CEO), dibutuhkan proses yang relatif lebih rumit dan perangkat tes yang lebih beragam. Biayanya pun berlipat. “Untuk sebuah psikotes biasa membutuhkan biaya sekitar Rp 100-700 ribu. Sementara itu untuk psikotes luar biasa semacam CEO, bisa mencapai Rp 5 juta,” kata Suko Winarno, praktisi yang bekerja di Biro Konsultan Psikologi LPT UI.

Menurut Winarno, ada tiga aspek pokok yang diungkap dalam psikotes. Pertama, aspek kecerdasan umum atau intelegensi. Untuk mendeteksi kemampuan ini digunakan alat tes yang memancing kemampuan intelegensi umum (general factor) dan kemampuan khusus (specific factor). Tes yang digunakan bisa berupa tes verbal, non verbal dan performance.

Kedua, aspek karakteristik/perilaku kerja, yang meliputi berbagai unsur, antara lain kecepatan, ketelitian, perencanaan dan semacamnya sesuai dengan kebutuhan khusus pekerjaan. Aspek ini bisa terlihat dari keseluruhan hasil tes.

Ketiga, aspek kepribadian, yang biasanya mencerminkan sisi-sisi unik atau ke-khas-an seseorang. Untuk menggali aspek kepribadian ini dibutuhkan ketajaman dan kepekaan psikolog. Selain itu, pengalaman yang memadai juga dibutuhkan untuk menghindari hal-hal yang subyektif, semisal marah atau tersinggung oleh ulah pelamar.

Ketiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan integritas yang tidak bisa dipisahkan secara segmentatif. Hasil dari ketiga aspek ini, nantinya akan menentukan “kualitas” seseorang.

Selanjutnya, kata Winarno, keseluruhan hasil psikotes disesuaikan dengan kualifikasi “pesanan” perusahaan. Seseorang yang memenuhi kualifikasi, akan direkomendasikan untuk diterima. Memang, tidak semua pelamar bisa memenuhi 100 persen kualifikasi yang ditetapkan oleh sebuah perusahaan. “Bagi kami, seseorang yang memenuhi 70 persen kualifikasi perusahaan, biasanya kami sarankan untuk diterima,” kata Winarno yang sudah 20 tahun bekerja sebagai psikolog ini.

Yang menjadi persoalan, sebenarnya, hasil sebuah psikotes tidak mengenal adanya dikotomi lulus dan tidak lulus. Hal ini sering menimbulkan kesalahpahaman. Seolah orang yang tidak bisa melewati tahap psikotes, seolah dianggap mempunyai sisi kekurangsempurnaan diri yang membuatnya tidak bisa bekerja.

Padahal, sebuah psikotes sebenarnya hanya mencoba menangkap kecenderungan kemampuan seseorang, baik intelegensi maupun kepribadian, untuk disesuaikan dengan kualifikasi sebuah posisi pekerjaan tertentu. “Jadi, bila Anda tidak lolos melewati psikotes, itu hanya karena Anda tidak sesuai dengan kualifikasi yang diinginkan,” kata Winarno menambahkan.

Psikotes itu sendiri berupaya menangkap sisi kepribadian seseorang, sehingga dibutuhkan spontanitas dan orisinalitas respon/jawaban. Hal tersebut dibutuhkan agar hasil yang diperoleh bisa mendekati akurasi kepribadian yang sebenarnya. Karenanya, psikolog semacam Winarno menganggap kurang bijaksana bila ada biro yang mengadakan latihan psikotes. Menurut Winarno, “Hasil tes yang mengandalkan latihan akan berakibat interpretasi hasil psikotes tidak menggambarkan kepribadian yang sebenarnya.” (GCM/KT)


Aksi

Information

2 responses

11 02 2013
toko komputer

trima kasih gan tk info’a..
cukces slalu’a gan.. 🙂

13 02 2013
latihansoal.com

trima kasih ya gan tuk artikel’a… 😀 :p
sukses truz… 🙂 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: